Organisasi Buddhis Mangala (OBM) didirikan pada tanggal 9 September 2001 di Beijing oleh enam mahasiswa Buddhis Indonesia yang sedang menempuh studi di Tiongkok: Sutoyo Raharto, Shintia Dewi, Doni Ho, Dewi Santi, Noto Suroto dan Susana Dewi.
Nama “Mangala” dipilih bersama dalam sebuah rapat di asrama Beijing. Dalam kitab suci agama Buddha, Mangala berarti Berkah Utama — harapan agar organisasi ini senantiasa membawa berkah kebajikan dalam setiap langkahnya. Nama ini juga tidak terlepas dari pengaruh pengajaran Maṅgala Sutta yang membabarkan 38 berkah utama kehidupan.
Perjalanan OBM tidaklah mudah. Sebagai organisasi mahasiswa Buddhis Indonesia di Tiongkok, OBM menghadapi berbagai tantangan mulai dari sensitivitas regulasi kehidupan beragama, keterbatasan tempat beribadah, hingga keterbatasan dana dan sumber daya. Namun semangat persaudaraan yang kokoh dan dedikasi para pendiri menjadikan OBM tetap bertahan dan terus berkembang.
Salah satu momentum penting adalah disahkannya Piagam Mangala pada Kongres OBM I tahun 2003. Piagam ini menjadi pedoman organisasi yang mengatur sistem kaderisasi, tata kelola, dan mekanisme pengambilan keputusan. Piagam tersebut kemudian diperbarui pada Kongres OBM II tahun 2013, memperkuat landasan organisasi untuk menghadapi tantangan yang semakin dinamis.
Dari Beijing, OBM berkembang ke berbagai kota di Tiongkok — Shanghai, Guangzhou, Nanjing, Hangzhou — dan kemudian merambah ke Indonesia pasca-pandemi dengan terbentuknya OBM Jakarta sebagai pusat koordinasi bagi para alumni yang kembali ke tanah air.